dwKOMQi3a4gh8Hee1hY6F_nqDcw Makalah Perubahan Sosial | referensi makalah

Wednesday, November 30, 2011

Makalah Perubahan Sosial


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Setiap masyarakat manusia pasti mengalami perubahan-perubahan selama hidupnya. Ada perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, ada perubahan yang lambat ada pula perubahan yang cepat. Dengan diakuinya dinamika sebagai inti jiwa masyarakat, banyak sosiolog modern yang mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.

Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak dahulu. Namun, dewasa ini perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepatnya sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya, yang sering berjalan secara konstan. Ia memang terkait dengan waktu dan tempat. Akan tetapi, karena sifatnya yang berantai, perubahan terlihat berlangsung terus, walau diselingi keadaan di mana masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena perubahan.[1]
 Perubahan sosial saat ini sangat kompleks, meliputi berbagi unsur yang ada pada masyarkat, begitu juga dengan masalah kebudayaan yang selalu berkembang dikarenakan masyarakat yang sangat dinamis.
Atas dasar problema diatas maka, penulis akan membahas masalah tersebut dalam makalah yang berjudul perubahan sosial dan kebudayaan.









B.   RUMUSAN MASALAH
·        Apa definisi dan teori-teori tentang perubahan sosial dan kebudayaan ?
·        Bagaimana hubungan antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan ?
·        Apa saja bentuk-bentuk perubahan sosial da kebudayaan ?
·        Apa faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan ?
·        Apa faktor-faktor yang mempengaruhi proses perubahan?
·        Bagaimana proses-proses perubahan sosial dan kebudayaan ?


C.   TUJUAN PEMBAHASAN
·        Untuk mengetahui definisi dan teori-teori tentang perubahan sosial dan kebudayaan.
·        Untuk mengetahui hubungan antara perubahan sosial dan kebudayaan.
·        Untuk mengetahui bentuk-bentuk perubahan sosial dan kebudayaan.
·        Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan.
·        Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses perubahan.
·        Untuk mengetahui proses-proses perubahn sosial dan kebudayaan.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
Para sosilog maupun antropolog telah banyak membahas definisi perubahan  sosial dan kebudayaan. Diantaranya :
William F. Ogburn berusaha memberikan pengertian tertentu, dia mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.[2]
Kingslay Davis mengartikan peerubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahn dalam hubungan antara  buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.[3]
MacIver lebih suka membedakan antara utilitarian elements dengan cultural elements yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori di atas. Sebuah mesin ketik, printer, atau system keuangan merupakan utilitarian elements karena benda-benda tersebut tidak langsung memenuhi kebutuhan manusia, tetapi dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan. Utilitarian elements disebutnya civilization. Artinya, semua mekanisme dan organisasi yang dibuat manusia dalam upaya menguasai kondisi-kondisi kehidupannya. Culture menurut MacIver adalah ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup dan berfikir, pergaulan hidup,seni kesusastraan, agama, rekreasi dan hiburan. Sebuah potret, novel, drama, film, permainan, filsafat dan sebagainya, termasuk culture karena hal-hal itu secara langsung memenuhi kebutuhan manusia[4]. Perubahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.[5]
Gillin dan Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan-perubahn kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern.[6]
Selo Soemardjan : perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memenuhi system sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian mempengaruhi segi-segi structure masyarakat lainnya.[7]

B.     TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Banyak dari  ahli filsafat dan sosiolog berpendapat bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Ada yang berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, misalnya perbahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan.
Ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat periodic dan non periodik.[8] Pendapat-pendapattersebut pada umumnya menyatakan bahwa perubahan merupakan lingaran kejadian-kejadian.
Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak aka berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingkaran perubahan-perubahan sosial tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi.[9]
William F. Ogburn menekankan pada kondisi teknologi dari kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan disamping aspek ekonomi, geografis, dan biologis. Ada beberapa ahli pula yang menyatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya , satua atau semua akan menghasilkan perubahan-perubahan sosial.

C.     HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN SOSIAL DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Sosial sanant erat hubungannya dengan kebudayaan. Sosial berbicara tentang masyarakat dan kebudayaan merupakan hasil dari masyarakat yang berupa ekspresi jiwa, cara-cara hidup, berfikir, pergaulan, seni dan sebagainya. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan.[10]
Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas. Sudah tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi perubahan-perubahan dalam kebudayaan tidak perlu mempengaruhi sistem sosial. Masyarakat menurut Kinslay Davis adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antara organisasi-organisasi, bukan hubungan antara sel-sel.[11] Kebudayaan dikatakannya mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komutatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolis dan bukan karena warsan yang berdasarkan keturunan.[12] Apabila diambil definisi kebudayaan dari Taylor yang mengatakan bahwa kebudayaan adalahsuatu kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat, dan setiap kemempuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan-perubahan kebudayaan merupakan setiap perubahan dari unsur-unsur tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari kita akan sulit menentukan garis pemisah antara perubahan sosial dan prubahan kebudayaan karena tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat. Jadi walapun secara teoritis pemisah antara keduanya dapat dirumuskan, tapi dalam kehidupan sehari-hari garis pemisahnya sukar dipertahankan.
Hal yang jelas adalah perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu keduanya bersangkut-paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.[13]

D.    BEBERAPA BENTUK PERUBAHAN SOSIAL
Bentuk-bentuk perubahan sosial dan kebudayaan telah dibahas oleh banyak sosiolog. Perubahan-perubahn tersebut diantaranya :
·         Perubahan yang Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Direncanakan
Adakalanya perubahan sosial memang telah direncanakan, baik waktunya, pola biayanya, manusia-manusianya dan sebagainya. Tapi disamping itu ada perubahan sosial yang tidak direncanakan seperti karena terjadinya penjajahan, banana alam dan lain-lain.
Perubahan sosial yang direncanakan, merupakan perubahan yang diperkirakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perbahan itu dinamakan agen of change atau agen perubahan. Yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai ide-ide baru atau yang dipercayakan untuk pengembangan kegiatan-kegiatan yang akan dapat membawa perubahan di dalam masyarakatnya.[14] Perubahan sosial yang demikian itu, lazimnya sudah menyiapkan suatu cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan konsepsi dan sistem yang teratur dan terarah, yang disebut dengan social engineeringatau juga disebut social planning.
Tugas dari agen of change adalah menciptakan institusi-institusi kemasyarakatan, yang dapat dijadikan saluran efektif dalam mengintrodusir ide-ide baru dan kegiatan pembaharuan sosial. Disamping menciptakan institusi modern tersebut juga diusahakan mewujudkan manusia-manusia modern yang mempunyai orientasi ke depan dan sanggup menjangkau horizon pemikiran yang lebih jauh dan terbuka.
·         Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat
Perubahan-perubahan yang berlangsung lama, yang berupa rentetan-rentetan perubahan kecil yang saing mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Evolusi sosial terjadi dengan sendirinya tanpa adanya rencana atau kehendak tertentu.  Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Ada beberapa teori tentang evolusi, yang pada umumnya dapat digolongkan ke dalam beberapa ketegori sebagai berikut :[15]
a.       Unilinear theories of evolution
Teori ini pada pokoknya berpendapat bahwa manusia dan masyarakat (termasuk kebudayaan) mengalami perubahan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, mulai dari bentuk sederhana lalu bentuk yang kompleks sampai bentuk yang sempurna. Pelopor teori ini antara lain August Comte, Herbert Spencer dan sebagainya. Variasi dari teori ini adalah Cyclical theories, Teori yang dipeopori oleh Vilfredo Pareto berpendapat bahwa masyarakat dan kebudayaan mempuyai tahap-tahap perkembangan yang berupa siklus, di mana suatu tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang. Termasuk pendukung teori ini adalah Pitirim A. Sorokin yang pernah pula mengemukakan teori dinamika sosial dan kebudayaan. Sorokin menyatakan bahwa masyarakaat berkambang melalui tahap-tahap yang masing-masing didasarkan pada sistem kebenaran. Dalam tahap pertama dasarnya kepercayaan, tahap kedua indra manusia dan tahap terakhir dasarnya adalah kebenaran.[16]
b.      Universal theory of evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Teori ini mengemukakan bahwa kebuadayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Prinsip-prinsip teori ini diuraikan oleh Herbert Spencer yang antara lain mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogeny ke kelompok heterogen, baik sifat maupun susunannya.
c.       Multilined theories of evolution
Teori ini menekankan pada penelitian-penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya, mengadakan penelitian perihal pengaruh perubahan sistem pencaharian dari sistem pertanian ke industri, terhadap sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang bersangkutan.
Dewasa ini sangat sulit meentukan apakah suatu masyarakat berkembang melalui tahap-tahap tertentu karena tahap-tahap tersebut juga sulit untuk dijelaskan. Tahap-tahap Perubahan sosial itu sendiri pada masa mendatang akan menuju kebentuk kehidupan sosial yang lebih sempurna dari sekarang atau sebaliknya oleh karena itu banyak sosilog telah banyak meninggalkan teori-teori evolusi (tentng, masyarakat).
Sementara itu, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan cepatdan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan revolusi.
Di dalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu atau tanpa rencana. Ukuran kecepatan pada revolusi ini sebenarnya relatif. Misalnya revolusi industri di Inggris, dimana perubahan-perubahan terjadi dari tahap produksi tanpa mesin menuju ke tahap produksi menggunakan mesin. Perubahan tersebut dianggap cepat karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan, hubungan antara buruh dengan majikan dan sebagainya. Suatu revolusi dapat berlangsung dengn didahilui dengan pemberontakan. Pemberontakan para petani di Banten misalnya, didahului dengan suatu kekerasan, sebelum menjadi revolusi yang mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat.
·         Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Agak sulit untuk merurumuskan masing-masing pengertian tersebut di atas karena batas-baas pembedanya sangat relative. Sebagai pegangan dapatlah dikatakan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti pada masyarakat.[17]pengaruh mode pakaian misalnya tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat secara keseluruhab karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sealiknya, suatu proses indusrialisasi yang berlangsun pada masyarakat agraris, misalnya merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat. Berbagai lembaga kemasyarakat akan ikut terpengaruh, misalnya hubungan kerja, hubungan kekeluargaan, sistem kekeluargaan, stratifikasi msyarakat dan sebagainya.

E.     FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
Faktor-faktor penyebab perubahan sosial dan kebudayaan berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan juga berasal dari luar. Yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri antara lain :
·         Bertambahnya dan Berkurangnya Peduduk
Sentralisasi pemerintahan dan juga pusat lapangan kerja membuat banyak penduduk pedesaan melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Sehingga terjadi bertambahan penduduk di daerah perkotaan dan juga berkurangnya penduduk di daerah pedesaan. Kepadaatan pendudukan di kota besar telah melahirkan berbagai perubahan dengan pengaruh yang besar. Areal tanah yang dapat diusahakan menjadi lebih sempit; pengannguran semakin tampak. Banyak penduduk bertempat tinggal di tempat yang tidak layak dan tidak pada tempatnya seperti di kolong jembatan, di jalanan, di piarnggir sungai dan sebagainya.
Hal semacam itu membuat sistem sosial tidak terkendali. Dan perubahan sosial berkembang kearah yang lebih buruk.
·         Penemuan-Penemuan Baru dan  Perkembangan Teknologi
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan invention. Discvery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu,
Discovery baru menjadi invention kalu masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu.[18]sering kali proses dari discovery sampai ke invention mebutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta. Penemuan mobil misalnya dimulai dari usaha seorang Austria, yaitu S.Marcus (1875) yang membuat motor gas yang pertama. Sebetulnya sistem motor gas tersebut juga merupakan suatu hasil dari rangkaian ide yang telah dikembangkan sebelum Marcus. Meskipun demikian, Marcus lah yang membulatkan penemuan tersebut, dan yang untuk pertama kali yang menghubungkan motor gas dengan sebuah kereta sehingga dapat berjalan tanpa ditarik seekor kuda itulah saatnya mobil menjadi discovery. Jadi 30 tahun kemudian sesudah suatu rangkain sumbangan dari sekian banyak pencipta lain yang menambah perbaikan mobil tersebut, barulah sebuah mobil dapat mencapai suatu bentuk sehingga dapat dipakai sebagai alat pengangkut oleh manusia dengan cukup praktis dan aman. Bentuk mobil semacam itu yang mendapat paten di amerika serikat (1911) dapat disebut sebagai permulaan dari kendaran mobil yang pada masa sekarang menjadi salah satu alat yang amat penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan tercapainya bentuk tersebut, kendaraan mobil menjadi suatu invention.
Pada saat penemuan menjadi invention, proses inovasi belum selesai. Meskipun kira-kira sesudah 1911 produksi mobil dimulai, mobil masih belum dikenal ole selurruh masyarakat. Penyebaran ala pengangkutan tersebut harus dipropagandakan kepada khalayak ramai selain itu biaya produksi mobil demikaian tingginya sehingga hanya suatu golongan sangat kecil saja yang dapat membelinya. Masih diperlukan rangkain penelitian lain dan penemuan-penemuan lain yang akan dapat menekan biaya produksi. Satu persoalan lain yang juga harus dihadapi adalah apakah masyarakat sudah siap menerimanya karena misalnya diperlukan pembuatan jalan-jalan raya yanga baru. Seluruh proses tersebut merupakan rangkaian proses inovasi dari sebuah mobil.[19]
Seperti halnya mobil, penemuan internet juga telah mengubah sistem sosial dan sendi pokok kehidupan masyarakat. Internet memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia kerena internet menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga kebudayaan Negara lain sehingga kebudayaan Indonesia terkikis oleh budaya global. Kebudayaan atau tradisi gotong royong semakin lama semakin menghilang. Apalagi setelah adanya jejaring sosial yang berupa facebook, twiter, dan sebagainya telah memberikan banyak perubahan pada hubungan sosial antara setiap orang. Jejaring sosial telah membuat hubungan sosial antara manusia yang saling  berjauhan menjadi lebih dekat tapi, seseorang lebih mempedulikan orang yang jauh dari pada orang yang didekatnya
·         Pertentangan (Conflict) Masyarakat
Pertentangan masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan yang kerap tejadi antara generasi tua dan generasi muda. Pertentangan-pertentangan demikian akibat ketidak sefahaman antara keduanya tentang cara pandang kehidupan sosial dan kebudayaan. Generasi muda menganggap geerasi tua itu kuno dan ketinggalan zaman, mereka lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan asing (khususnya kebudayaan barat) karena merasa kebudayaan asing lebih modern dan masa kini.
·         Terjadinya pemberontakan
Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar Negara Rusia yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan absolute berubah menjadi dictator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk Negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan-perubahan yang mendasar.

Suatu perubahan sosial dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat, yaitu :
·         Lingkungan alam yang ada di sekitar manusia
Terjadinya gempa bumi, topan, banjir besar dan sebagainya mungkin menyebabkan masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat yang baru mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Kemungkinan penyesuaian itu menimbulkan perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan.
Lingkungan alam juga berpengaruh bagi kaum urban. Mereka yang sebelumnya bertani atau bergantung pada alam, setelah ke kota mereka akan menyesuaikan diri dan berubah sesuai dengan masyarakat kota.
·         Peperangan
Peperangan dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan karena biasanya pihak yang menang akan memaksaka kebudayaannya pada yang kalah.[20] Contohnya Negara-negara yang kalah dalam perang dunia ke dua banyak sekali mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya. Negara-negara yang kalah dalam perang dunia kedua seperti jerman da jepang mengalami perubahan-perubahan yang besar dalam masyarakat.
·         Pengaruh kebudayaan lain
Hubungan yang dilakukan fisik antara dua masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda mempunyai kecenderungan pengaruh timbal balik. Kedua kebudayaan akan saling mempengaruhi. Kadang kala ada kebudayaan yang menolak kebudayaan lain. Seperti kebudayaan orang cina yang masuk ke Indonesia karena banyak orang cina yang tinggal di Indonesia telah menyebabkan banyak perubahan terhadap kebudayaan di Indonesia.
Pengaruh kebudayaan tidak harus ada kontak fisik antara kebudayaan. Dengan adanya internet, televisi dll, telah menyebarkan kebudayaan keseluruh dunia. Karena penguasa teknologi ini adalah budaya barat dan jepang sehingga pengaruh yang disebarkan sebagian besar adalah budaya tersebut. Sehingga pengaruh itu hanya dari satu pihak saja.
Apabila salah satu dari dua kebudayaan yang bertemu mempunyai taraf teknologi yang lebih tinggi, maka yangterjadi adalah proses imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur-unsur kebudayaan lain. Mula-mula unsur-unsur tersebut ditambahkan pada kebudayaan asli. Akan tetapi, lambat laun unsur-unsur kebudayaan aslinya diubah dan diganti oleh unsur-unsur kebudayaan asing tersebut.[21]

F.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PERUBAHAN
1)      Faktor-Faktor yang Mendorong Proses Perubahan
Di dalam masyarakat yang terjadi perubahan terdapat faktor-faktor yang mendorong proses perubahan yang terjadi. Faktor-faktor tersebut antara lain:[22]
·         Kontak dengan kebudayaan lain. Kontak langsung maupun tidak langsung telah mendorong terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Seperti contoh pengaruh adanya masyarakat asing didaerah tertentu dan juga adanya internet yang menyebarkan pengaruh kebudayaan asing.
·         Sistem pendidian formal yang maju. Pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan untuk adanya perubahan yang menuju kearah yang lebih baik. SDM suatu tempat akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena mereka lebih dapat memanaatkan Alam dengan efektif dan efisien.
·         Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan yang maju. Setiap karya dapat berpotensi untuk memajukan peradaban manusia. Seperti karya atau penemuan telepon. Pada awalnya telepon tidak dianggap oleh masyarakat sebagai karya yang hebat mereka lebih meremehkannya. Tapi suatu ketika masyarakat mengetahui fungsi sesungguhnya maka karya tersebut menjadi sangat dihargai masyarakat. Suatu perbuatan pasti diawali oleh keinginan. Keinginan untuk maju membuat kita berkembang kearah yang lebih baik.
·         Sistem terbuka lapisan masyarakat. Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertical yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai satus lebih tinggi. Identifikasi merupakan tingkah laku yang sedemikian rupa sehngga seseorang merasa berkedudukan sama dengan orang atau golongan lain yang dianggap lebih tinggi dengan harapan agar diperlakukan sama dengan golongan tersebut. Identifikasi terjadi dalam hubungan super ordinasi-subordinasi. Pada golongan yang berkedudukan  lebih rendah acap kali terdapat perasaan tidak puas terhadap kedudukan sosial sendiri. Keadaan tersebut dalam sosiologi disebut status-anxiety. Status anxiety menyebabkan seseorang berusaha untuk menaikkan kedudukan sosialnya.
·         Penduduk yang heterogen. Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideologi yang berbeda mudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan. Keadaan demikian menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
·         Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
·         Orientasi ke masa depan
·         Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya
·         Dan sebagainya
2)      Faktor-Faktor yang menghalangi terjadinya perubahan
·         Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain. Kehidupan terasing atau jauh dari kehidupan masyarakat lain menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin akan dapat memperkaya kebudayaannya sendiri. Hal itu juga menyebabkan para warga masyarakat terkungkung pols-pols pemikiranya oleh tradisi.
·         Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat. Hal ini mungkin disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing dan tertutup atau karena dijajah oleh masyarakat lain.
·         Sikap masyarakat yang sangat tradisional suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau serta angapan bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah menghambat jalannya proses perubahan.
·         Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interests dalam setiap organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan, pasti akana da sekelompok orang yang menikmati kedudukan perubahan-perubahan. Misalnya dalam masyarakat feodal dan juga pada masyarakat yang sedang mengalami transisi. Dalam hal yang terakhir, ada golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap sebagi pelopor-pelopor transisi. Karena selalu mengidentifikasikan diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya, sukar sekali bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya didalam suatu proses perubahan.
·         Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan memang harus diakui kalau tidak mungkin integrasi semua unsur-unsur kebudayaan yang bersifat sempurna beberapa perkelompokan unsure-unsur tertentu mempunyai drajat integrasi tinggi. Maksudnya unsure-unsur luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek tertentu pada masyarakat.
·         Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing / sikap yang tertutup
·         Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis
·         Adat atau kebiasaan

G.    PROSES-PROSES PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN
·         Penyesuaian Masyarakat Terhadap Perubahan
Keserasian atau harmoni dalam masyarakat (social equilibrium) merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat. Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan dimana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok benar-benar berfungsi dan saling mengisi.[23] Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya ketentraman karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai.
Setiap kali terjadi gangguan terhadap keserasian, masyarakat dapat menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga kemasyarakatannya dengan maksud menerima atau beradaptasi dengan unsur yang baru. Akan tetapi, kadangkala unsur baru dipaksakan maksudnya oleh suatu kekuatan seperti pemerintah atau juga orang yang mempunyai uang dan membangun suatu unsur baru (mall, perumahan) dan sebagainya. Adakalanya unsur-unsur baru dan lama yang bertentangan secara bersamaan mempengaruhi norma-norma dan nilai-nilai yang kemudian berpengaruh pula pada masyarakat. Itu berarti adanya gangguan yang kontinyu terhadap keserasian masyarakat. Keadaan tersebut menimbulkan ketegangan-ketegangan serta kekecewaan diantara para warga yang tidak mempunyai saluran pemecahan. Apabila ketidak serasian dapat diplihkan kembali setelah terjadinya perubahan, keadaan tersebut dinamakan penyesuaian (anjustment). Bila sebaliknya yang terjadi, maka dinamakan ketidakpenyesuaian sosial (maladjustment) yang mungkin mengakibatkan terjadinya anomie.[24]
Menurut teori evolusi sesuatu yang tidak dapat menyesuaikan diri tehadap perubahan dan lingkungan maka, akan tereliminasi. Setelah munculnya faktor penyebab perubahan sosial maka Masyarakat akan selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. jika lingkungan berubah maka ia akan berubah.
·         Saluran-Saluran Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Saluran-saluran perubahan sosial kebudayaan (avenue or channel of change) merupaka saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. Umumnya saluran-saluran tersebut adalah lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi, dan sebagainya. Lembaga kemasyarakatan tersebut menjadi titik tolak, tergantung pada cultural focus masyarakat paa suatu masa tertentu.
Lembaga kemasyarakatan yang ada pada suatu waktu mendapatkan nilai tertinggi dari masyarakat cenderung menjadi saluran utama perubahn sosial dan kebudayaan. Perubahan lembaga kemasyarakatan tersebut akan membawa akibat pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya karena lembaga-lembaga kemasyarakatan merupakan suatu sistem yang terintegrasi.
Lembaga-lembaga kemasyarakatan tersebut merupakan suatu  struktur apabila mencakup hubungan antar lembaga kemasyarakatan yang mempunyai pola-pola tertentu dan keserasian tertentu.
Pada tanggal 17 agustus 1945, terjadilah proklamasi kemerdekaan Indonesia, di mana pertama-tama terjadi perubahan pada struktur pemerintahan, dari jajahan menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat. Hal ini menjalar ke lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Misalnya dalam bidang pendidikan, tidak ada lagi diskriminasi antara golongan-golongan, sebagaimana halnya pada zaman penjajahan. Setiap orang boleh memilih pendidikan ,acam apa yang disukai. Peubahan tersebut berpengaruh pada sikap pola perilaku dan nilai-nilaimasyarakat Indonesia.
Dengan singkat dapatlah dikatakan bahwa saluran tersebut berfungsi agar sesuatu perbahan dikenal, diterima, diakui, serta dipergunakan oleh khalayak ramai, atau dengan singkat, mengalami proses institutionalization (pelembagaan).  
·         Disorganisasi (Disintegrasi) dan Reorganisasi (Reintegrasi)
Organisasi merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang merupakan suatu kesatuan fungsional. Tubuh manusia misalnya, terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing mempunyai fungsi dalam rangka hidupnya. Seluruh tubh manusia merupakan suatu kesatuan. Apabila seseorang sedang sakit, bisa dikatakan salah satu atau lebih bagian tubuhnya tidak dapat berfungsi seperti seharusnya, maka akan dirasakan oleh seluruh tubuh. Jadi, secara keseluruhan bagian-bagian tubuh manusia tadi merupakan keserasian yang fungsional.
Demikian juga kehidupan dalam suatu kota merupakan suatu organisasi tersendiri. Ada kegiatan membersihkan kota, jalan raya untuk keperluan transport, restoran, tempat rekreasi, sekola, rumah penduduk, dan sebagainya. Apabila salah satu bagian kota tidak berfungsi, timbullah ketidak serasian. Misalnya saja ada jalan yang ditutuk karena rusak lantas akan timbul kemacetan. Maka dapatlah dikatakan bahwa disorganisasi adalah suatu keadaan dimana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu kebulatan.[25]
Disorganisasi mengenal pula bermacam-macam derajat atau tahap-tahap kelangsungan. Disorganisasi tidak hanya terjadi karena pertentangan-pertentangsn yang meruncing, misalnya peperangan, tetapi dapat pula disebabkan karena kemucetan lalu lintas misalnya. Kedua hal itu mempunyai pengaruh yang berbeda derajatnya. Criteria terjadinya disorganisasi antara lain terletak pada persoalan apakah organisasi tersebut berfungsi secara semestinya atau tidak.
 Sehubungan dengan masuknya unsur-unsur baru, di dalam tubuh suatu sistem sosal seperti masyaraka, ada unsur-unsur yang menentukan sifatnya sistem sosial tersebut, yang tidak dapat diubah selama hidup oleh pihak manapun juga.[26] Seperti biji jagung, jika ditana maka akan menghasilkan pohon jagung dan tidak akan menghasilkan selain itu. Maka, suatu lembaga pemerintahan misalnya, tidak akan dapat berubah menjadi night club.
Suatu disorganisasi atau disintegrasi mungkin dapat dirumuskan sebagai suatu proses memudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat krena perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara itu reorganisasi atau reintegrasi adalah suatu proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mengalami perubahan. Tahap reorganisasi dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah melembaga dalam diri warga masyarakat. Berhasil atau tidaknya proses pelambagaan tersebut
Apabila disorganisasi terjadi dengan sangat cepat,  maka mungkin akan timbul hal-hal yang sulit untuk dikendalikan. Dengan demikian, reorganisasi tidak dapat terjadi dengan cepat karena terlebih dahulu harus menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kemugkinan akan terjadi suatu keadaan dimana norma-norma lama sudah hilang karena disorganisasi, sedangkan norma-norma baru belum terbentuk. Keadaan tersebut merupakan keadaan krisis dalam masyarakat. Pada keadaan demikian akan dijumpai anomie[27]. Anomie mungkin juga terjadi pada waktu suatu disorganisasi meningkat ke tahap reorganisasi.
Pada ketidak serasian perubahan-perubahan dan ketertinggalan budaya ada unsur-unsur yang cepat berubah dan ada pula unsure yang sukar untuk berubah. Biasaya unsur-unsur kebudayaan kebendaan lebih mudah berubah dari pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Apabila terdapat unsur-unsur yang tidak mempunyai hubungan yang erat, tidak ada persoalan mengenai tidak adanya keseimbangan lajunya perubahan-perubahan. Apabila dalam hal ini terjadi ketidak serasian, kemungkinan akan terjadinya kegoyahan dalam hubungan antara unsur-unsur tersebut diatas sehingga keserasian masyarakat terganggu. Misalnya, apabila pertambahan pendudk berjalan dengan cepat, untuk menjaga tata tertib dalam masyarakat diperlukan pula penambahan petugas-petugas keamanan yang seimbang banyaknya.
Sampai sejauh mana akibat keadaan tidak serasi laju perubahan tersebut tergantung dari erat atau tidaknya integrasi antara unsur-unsur tersebut. Apabila integrasi unsur-unsur dalam masyarakat sangat erat maka ketidakserasian mempunyai akibat yang sangat jauh.
Suatu teori yang terkenal di dalam sosiologi mengenai perubahan dalam masyarakat adalah teori ketertinggalan budaya (cultural lag) dari William F. Ogburn. Teori tersebut mulai dengan kenyataan bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak selalu sama cepatnya dalam keseluruhan, tetapi ada bagian yang tumbuh cepat dan ada yang tumbuh dengan lambat. Perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat dinamakan culture lag. Jadi suatu ketertinggalan terjadi apabila laju perubahan dari dua unsur atau lebih masyarakat atau kebudayaan yang mempunyai kolerasi, tidak seimbang sehingga unsure yang satu tertinggal oleh unsur lainnya.
Pada dewasa ini proses-proses pada perubahan-perubahan sosial dapat diketahui dari adanya ciri-ciri tertentu, yaitu sebagai berikut:
1.      Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya karena setiap masyarakat mengalami perubahan yang terjadi secara lambat atau secara cepat.
2.      Perbahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu, akan diikuti dengan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainya. Karena lembaga-lembaga sosial tadi sifatnya interdependen, maka suli sekali untuk mengisolasi perubahan pada lembaga-lembaga sosial tertentu saja. Proses awal dan proses-proses selanjutnya merupakan suatu mata rantai.
3.      Peubahan-perubahan sosial yang cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi yang bersifat sementara karena berada di dalam proses penyesuaian diri. Disorganisasi akan diikuti oleh suatu reorganisasi yang menyangkut pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai lain yang baru.
4.      Perubahan-perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau sepiritual saja karena kedua bidang tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang sangat kuat.
5.      Secara tipologis, perubahan-perubahan sosial dapat dikategorikan sebagai berikut.[28]
a)      Social proces: the circulation of variousreward, facilities, and personnel in an existing structure.
b)      Segmentation: the ploriferation of structural unit that do not differqualitatively for existing unit.
c)      Stuctura change: the emege of qulitatifely new complexes of role and organitation.
d)      Change in group sturucture: the sifts in the composition of groups, the level of consciousness of groups, and the relations among the groups in socity.








BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Perubahan sosial dan kebudayaan akan selalu terjadi, ada perubahan yang cepat dan ada yang lambat. Faktor penyebab perubahan ada yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang berasal dari luar. Yang berasal dari masyarakat yaitu pertambahan penduduk, hubungan dengan kebudayaan lain, penemuan baru, teknologi dan sebagainya. Sedangkan yang dari luar adalah lingkungan sekitar, pengaruh kebudayaan lain dan sebagainya.
Perubahan sosial dan kebudayaan ada yang direncanakan dan ada yang tidak direncanakan. Perubahan yang direncanakan akan dilaksanakan oleh agen of change untuk memperoleh keadaan yang diinginkan agen of change. Agen of change misalnya pemerinta, perusahaan pembangunan dan sebagainya.
Setiap terjadi suatu perubahan, maka masyarakat akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Tapi jika suatu masyarakat tertutup dari perubahan atau menolak maka akan terjadi ketertinggalan budaya









DAFTAR PUSTAKA

Soerjono Soekanto,  Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, Cet 43, 2010
Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam perspektif sosiokultural, Jakarta: Lantabora Press, 2005, cet ke-3
Pitirim A. Sorokin, Contemporary Sociologial Teories, (New York: Harper and Brothers, 1928),
Wilbert E. Moore, “Sociale Verandering”, dalam Social Change,  diterjemahkan oleh A. Basoski, Prisma Boeken. Utrecht, Antwepen, 1965
William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff: sociologi, edisi ke-4, A. Feffer dan Simons Internatinal University Edition, 1964, bagian 7
Kingslay Davis, human society, cetakan ke-13, The Macmillan
Mac Iver, society; A textbook of sociology, new York: Farrar and Rinehart, 1937),
Samuel Koenig, Mand and Society, the basic teaching of sociology, (New York: Barners & noble Inc, 1957)
www.google.com





















[1] Wilbert E. Moore, “Sociale Verandering”, dalam Social Change,  diterjemahkan oleh A. Basoski, Prisma Boeken. Utrecht, Antwepen, 1965 hlm. 10
[2] William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff: sociologi, edisi ke-4, A. Feffer dan Simons Internatinal University Edition, 1964, bagian 7
[3] Kingslay Davis, human society, cetakan ke-13, The Macmillan
[4] Mac Iver, society; A textbook of sociology, new York: Farrar and Rinehart, 1937), hal 272 dan seterusnya
[5] Ibid.,
[6] Samuel Koenig, Mand and Society, the basic teaching of sociology, (New York: Barners & noble Inc, 1957) hal. 279
[7] Dalam social Change in Yogyakarta, 1962 , (New York: Cornell University Prss, Ithaca), hlm. XVIII dan 376
[8] Soerjono Soekanto,  Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, Cet 43, 2010, hlm. 263
[9] Pitirim A. Sorokin, Contemporary Sociologial Teories, (New York: Harper and Brothers, 1928), hlm. 739
[10] Kingslay Dafis, op.cit, hlm. 622,623
[11] Ibid., hlm. 26
[12] Ibid., hlm. 34
[13] Selo Soemardjan, op.cit., hlm. XVIII.
[14] Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam perspektif sosiokultural, Jakarta: Lantabora Press, 2005, cet ke-3, hlm. 13
[15] Alex Inkeles, What is Sociology? An Introduce to the Discipline and Profession, (New Delhi: Prentice Hall of India (Private) Ltd. 1965) hlm. 31 dan Seterusnya
[16] Pitirim A. Sorokin, Sicial and Culture Dinamics, (Pargent, Boston, 1957)
[17] Willbert E, Moore, op.cit., hlm 72 dan seterusnya
[18] Koentjaraningrat, Pemgantar Antropologi, (Jakarta: Penerbit Universitas, 1965)., h. 135
[19] Ibid h.,36 lihat juga dalam Maclever dan page, op.cit ., h. 159
[20] Soerjonno Soekanto, op.cit., hlm. 281
[21] Ibid.,
[22] Ibid.,
[23] Selo Sumardjan, op.cit., hlm. 383.
[24] Soerjono Soekanto, op.cit., hlm. 289
[25] Ibid., hlm. 291
[26] Teori dari Pitirim A. Sorokin
[27] Yaitu suatu keadaan dimana tak ada pegagan terhadap apa yang baik dan  apa yang buruk sehingga anggota-anggota masyarakat tidak mampu mengukur tindakan-tindaknnya karena batas-batas tidak ada.
[28] Neil J. Smelser, the sociology of Ekonomiclife. (New Jersey: Prentice-Hall Inc., 1975, hlm. 1414, 142.

No comments:

Post a Comment